salam hangat… kembali rakyat jelata merenung diri, kadang kilasan pikiran, selalu menggelitik bagai kudis yang hendak minta digaruk. biarlah menjadi sebuah catatan harianku. hari ini, entah kenapa teringat kembali peristiwa di masa kecilku saat melihat tukang pandai besi di salah satu “pendeyan” membuat sebuah “bendo”. mungkin anda belum tau ya benda apa itu. bendo adalah semacam golok tetapi gunanya untuk menebas kayu, bentuknya seperti golok tetapi pada ujungnya bukan lancip maupun bulat, tetapi ada menekuh ke bawah, semacam kaitan yang gunanya untuk menancapkan sementara pada batang pohon. jadi waktu si pemegang bendo naik ke pohon dan memangkas dahan, untuk sementara dia hujamkan ke batang, sehingga kedua tangan bisa digunakan untuk menarik atau membawa benda lain.
bukan bendo-nya dan kegunaannya yang akan saya sampaikan disini, tetapi proses membuatnya mengingat kita akan proses “menjadi”. bahan dasar bendo diambil besi plat atau lembar besi yang ketebalannya kurang lebih satu centi meter. bahan dasar tersebut dibakar dengan arang kayu jati sampai membara kemudian ditempa, dibakar lagi, ditempa lagi, begitu berulang-ulang, sampai pada bentuk setengah jadi. setelah setengah jadi baru pada sisi yang akan dibuat tajam dibelah dan diisi dengan baja.. dibakar, ditempa, dibakar ditempa… sehingga menjadi bentuk hampir jadi, namun masih kasar. setelah itu di “kentheng”, maksudnya dihaluskan dengan ditempa dengan palu yang lebih kecil supaya kehalusannya sempurna… baru bila sudah benar benar halus dan sesuai bentuk yang diinginkan baru di “kikir” untuk finishing, sehingga benar-benar halus.. bila sudah benar2 selesai dan tidak ada perubahan bentuk, maka proses yang paling akhir adalah di “sepuh” i, yakni menjadikan besi-baja tersebut lenting, kenyal dan keras.. caranya bendo yang sudah jadi tersebut dibakar pada kematangan tertentu, setelah itu baru dimasukkan air dingin, jadi semacam pendinginan secara serentak dan tiba2..
sekelompok pandhe di sebuah tempat pandai besi atau “besalen”terbagi atas : juragan (yang mendesain, membakar, memegang besi serta mengarahkan besi saat ditempa diatas besi yang dinamakan “paron”), panjak (yakni tukang yang menempa besi), ubub (tukang yang bertugas menghidupkan api agar konstan sekaligus memberi udara dengan alat peniup udara dari kayu yang dilobongi tengahnya seperti pipa ke tempat pembakaran atau “prapen”), kentheng (tukang yang menghaluskan permukaan bilah).
proses mulai dari pemilihan bahan besi dan baja dengan perbandingan tertentu, penempaan besi atau “pandhe”, pencampuran baja atau “majani”, pembentukan bilah atau “nggodongi”, penghalusan bilah atau “kentheng”, dan pengerasan bilah atau “nyepuhi” merupakan proses yang membutuhkan keahlian.. karena apa, kesempurnaan bentuk, kelentingan, kekenyalan, kekerasan dan terutama ketajaman si “bendho” yang dihasilkan tergantung tahapan-tahapan tersebut..
memang biasanya pengguna bendho ini pada jaman dulu adalah para penebang kayu, atau para kusir cikar/pedati yakni semacam alat angkutan yang ditarik sapi ato kerbau yang beroda dua, atau para tukang kebun para priyayi…ini ada sedikit cerita bahwa dulunya para penebang kayu, tukang babat alas, kusir pedati disebut “kaum kalasan” karena sering saba alas atau sering kluar masuk hutan.. namun setelah tanah pertanian sudah cukup, lambat laun sebutan “kaum kalasan” adalah para pengkut barang atau ekspedisi darat diantaranya kusir pedati yang jaman dulu terkenal dengan sebutan “bajingan”, yang sekarang konotasinya penjahat?! dulu bajingan adalah kaum kalasan yang gagah perwira.. tapi bahasa adalah kesepakatan, siapa nyana konotasi kata “diamankan” sekarang malah identik dengan dimasukkan bui alias ditahan, dipenjara… padahal di penjara juga belum aman lho katanya..
kok jadi ngelantur ya. kembali ke proses membuat bendho tadi, aku beranggapan bahwa tentunya sama saja dengan membuat pedang, keris, tombah dan benda “tosan aji” lainnya.. pada prinsipnya bila sang juragan sudah memutuskan “disepuh”, maka proses yang telah dilalui sudah sempurna, kenapa? karena setelah habis dikentheng sebagai bagian proses pemadatan besi dan penghalusan bilah, setelah dikikir akan kelihatan alur bendho di sisi tajam, yakni pada bagian bilah tersebut tampak selapis corak atau “dapur” dari serat baja yang bercampur denga besi… maka dibalik keindahan alur besi-baja tersebut tersimpan suatu ketajaman sempurna sebuah bendho… dan tentunya berharga mahal.. tentunya beda sekali dengan “gaman” yang kita beli di toserba…
disinilah uniknya, dari setiap penempaan tentunya tidak semua bendho mempunyai kualitas yang benar-benar sama… tergantung prosesnya… setuju bukan..tapi tentunya yang benar2 tau ketajaman adalah sang pemakainya.. tajam tidak, berharga tidak tergantung pemakainya, bila dulu bendho sekaligus sebagai senjata untuk mempertahankan diri dari sergapan “begal” atau perampok, maka sekarang hanya digunakan untuk membelah kayu, atu memangkas dahan pohon, tak lebih.
coba anda ibaratkan badan saudara itu ibarat sebilah pedang, maka dari lair hingga jelang ajal masih merupakan sebuah “proses menempa, membakar dan membetuk” diri… maka pesan saya jangan sekali-kali anda “menyepuh” diri anda, sebelum benar-benar diri anda setajam bendho atau pedangnya si kusir, karena anda adalah pedang hidup, ketajaman bukan badan anda tetapi daya rasa, daya karsa, dan daya cipta anda…. karena bila anda sekali memutuskan “menyepuh” diri maka segitulah diri anda menjadi, dan ndak bisa diulang kembali, karena begitu rasa, karsa anda sudah mandeg, maka biskaha anda mempunyai daya cipta dan kreatifitas? menyepuh adalah proses “akhir”.. tapi manusia mana yang bisa tau saat kapan dia “sakaratul maut”
untuk blog ini: kesan pertama begitu menggoda
mengenai sepuhan, apakah setelah disepuh manusia bisa “turun gunung” dan membawa perubahan? ataukah proses penempaan itulah yang memberi efek kepada sekitarnya (yang berarti tidak dibutuhkan penyepuhan)?
sepuh itu “yo tuwek atawa tua” jadi menyepuh itu ada awalan me- sehingga bermakna menjadi(kan) tua atau menua atau mengaggap tua, malah sok tua he he… jadi bagusnya sok muda aja ya.