.. bung pasti pernah dengar tokoh “ABUNAWAS” ntah itu rekaan, dongeng atau memang benar-benar ada dalam sejarah. tapi fenomena abunawas pasti ada disekitar kita, di segala lini kehidupan. suatu satire kehidupan, membutuhkan sebuah tandem, umpan balik permasalahan menyikapi hidup dalam ranah falsafah, etika dan moral..
..kadang untuk tetap menjaga ritme elan vital kita, maka secara tak sadarpun kita telah menghidupkan abunawas pada sisi lain diri kita dan satu sisi adalah diri mahadiraja yang berkuasa atas diri. pada dasarnya ada dua diri yang antagonis pada diri kita, orang jawa bilang ada bolo kiwo-bolo tengen, im-yang kata orang tionghoa, dan seterusnya- seterusnya.. namun munculnya ya tetap sang abunawas yang lebur guna mengatasi konflik internal, yang muncul adalah kebijaksaaan, baik itu kata orang baik atau buruk tapi tetap namanya kebijaksanaan to…
..begitu banyak tokoh dalam legenda maupun cacatan sejarah tapi tidak sefenomena Abunawas, ia bisa bertahan dalam segala macam cuaca kehidupan politik, ekonomi sosial budaya… dan tentunya tetap bisa kritis..
..bila ini kita tiru kayaknya bagus juga ya dalam kondisi kehidupan di negeri yang “gemah ripah loh jinawi” ini yang tak kunjung “toto titi tentrem kerto rahadjo, thukul kang sarwa tinandur…..” ini. tapi ada juga jeleknya kita ndak mungkin melakukan “topo edan” maksudnya kita jadi seolah-olah edan terus to. tapi klo nggak jadi jadi edan beneran. lha gimana, yang namanya : semua-mua nya pada edan, pejabat korupsi, sanak saudara pada nepotis, pedagang kolusi… lalu yang tersisa apa.. ibarat perusahaan katakan pt. indonesia incorporated itu komisarisnya sok bodho, direksinya minta gaji gedhe dan masih bisa menjarah, kualitas produknya gah bagus yang laku hanya sedikit, jadi ya dikomsumsi sendiri aja, terpaksa (orang Vietnam aja gak mau beras Bulog ya katanya) dapat margin dari mana, lha HPP aja sama harga jual, mahal HPP kok… Apa ngak bangkrut.. Tapi direksinya ama pemasoknya ya tetep kaya, kan masih kong x kong.. Lha kalo dipasok terus tak dapat bayar apa nggak lama-lama diambil ama si pemasok…Lha klo pemasoknya IMF, Temasik, WB, ADB dan apalagi itu namanya… Bisa2 nanti nggak perlu DPR, MPR, Utusan2 itu sebagai komisaris.. atau bisa jadi komisarisnya dari pemasok tadi ya..
..Tapi andai2 saja Direksi itu ada semangat bushido kayak orang Nippon, perusahaanku adalah mati-hidupku mungkin skenario tadi nggak bakal terjadi..tapi klo semangatnya busyedeh, perusahaaku adalah sakuku, ya nggak tau..
..tapi bagaimana bisa terwujud.. lha di negeri ini berfalsafah “yang kaya bantu yang kaya, yang miskin bantu yang miskin”.. mau contohnya; coba liat mana ada pengemis di gedung, hotel, mall, kafe, departement store..pasti diusir! yang ada ya di komplek perumnas tipe 36, jembatan penyeberangan, pinggir terminal, trotoar, dalam bis kota, mikrolet yang juga perkumpulan orang miskin!.. pak polisi nggak pernah malak pejabat, bos, direktur, pengusaha, karena liat mobilnya ama plat nomornya aja udah takut. ujung2nya ya tukang ojeg, pkerja pabrik dan sialnya karena jiwa miskinnya kali disuruh hidupin lampu aja susah malah milih ditilang ditempat.. klo ditanya ngirip dop lampu.. ngirit dari hongkong.. ada lagi, apa anda pernah denger preman itu adanya dimana, ya didaerah kumuh, pasar tradisional, pasar tukang loakan, terminal, tempat ngetem angkot yang kategorinya juga tempat orang miskin dan susah hidup.. pungli adanya dimana yang mungli itu ya pasti miskin toh, ya di tempat yang ane sebutkan tadi. petani kita yang gurem-gurem itu, klo ngak nyambi di kedokan petani lain ya nggak bakalan hidup, wong tenaganya nggak diupah, bila minta bantuan kemana ya ke tukang kredit model rentenir ’suwelasan” apa “rolasan” atau bahkan “nembelasan”, maksudnya bunganya 60%. bener nggak “yang miskin ya dibantu oleh yang miskin”.. sekali lagi salute deh buat negeri ini.
.. kayak kemarin ada berita dari pejabat, wakil rakyat, wartawan sampai selebritis ditipu investasi model dressel..apa nggak treyuh, pengin kaya kok ya mendadak gitu lho.. katanya ilmuwan, budayawan, tapi ya masih agak “crongohan” juga ya..apa kata dunia, gitu lho..
..lho kok kita lupa pada tokoh kita si abunawas tadi deh…abunawas adalah tokoh yang bisa hidup sekian abad lamanya.. pasti seorang yang jenius tapi sama sang penguasa dah dianggap setengah sinting, karena sebelumnya dah menyatakan bahwa menurut tabib istana dia sinting, sehingga polah tingkahnyapun ditak diambil kira.. tapi jadi wacana penguasa dalam bersikap, karena klo toh dia menghukum dia pasti pemerintah dianggap sinting, dan hukum tidak untuk orang gendheng kan. jadi klo mau selamat jadilah orang gila kata iwan fals.. tapi anehnya pejabat dan sanaknya bila kena kasus alasannya kok SAKIT, lha ini yang bodho menurut saya lho, mestinya dia datang ke psikiater dan minta surat keterangan bahwa dia GILA, titik! tapi jangan dilanjutin, pasti aman.. gila itu kan bisa gila harta, gila kedudukan, gila pangkat, gila-gila yang lain, kan beres gitu ja kok repot..
..klo alasan gila kurang pas, mungkin takut disumpahin anak-cucu karena nenek moyangnya gila, ya bermain lidahlah, belajar semiotika bahasa atau nyewa pengacara yang bisa bersilat lidah dan bermain kata-kata.. contohnya kasus penggede partai politik yang dituduh korupsi, dia tidak pernah menerima dengan tangannya, tapi cek itu ada diatas meja dan dia gak pegang, tapi trus dipegang orang lain, ya orang lain itulah yang bertanggung jawab. toh dia memang secara kalimat hanya melihat tapi gak megang. makanya benar kata pepatah ” dilihat boleh dipegang jangan” ntar bisa dituduh menerima, klo gak pegang kan nggak nerima, betul nggak.. beliau ni memang tipe Abunawas..
..klo kurang bisa berkata-kata, maka ada jalan lain. jangan pernah menerima transfer via rekening karena tercatat, maka gunakan secara tunai, bakalan nggak ketahuan.. ehh ya ada juga lho yang ketahuan tapi disembunyikan di bawah meja kantor, makanya jangan di kantor.. carilah tempat yang ngak bakalan orang lain, di tempat kumpulnya orang miskin tadi, dan jangan berdandan seperti orang kaya… dan jangan pernah dibukukan, tanggung beres deh..
..jadi bagimanapun kebijaksaan kita untuk bertindak waras maupun edanpun sebaiknya harus tetap bijaksana seperti Abunawas. Tapi sebaik baiknya sikap adalah ABU MAWAS.. bapaknya waspada!
berarti di negeri ini banyak nasab (keturunannya) abu nuwas : IBNU NAWAS…..