Alon-alon waton kelakon atau lambat asal selamat, makin berisi makin merunduk, siapa yang menanam dia yang akan memanen, merupakan sedikit dari produk kebudayaan petani. Sifat khaspetani karena pengaruh ritme kerja, kepasrahan kepada kondisi alam, dan menjalani proses hari demi hari sebuah hasil, maka akan melahirkan sebuah idiom-idiom budaya yang merupakan kristalisasi dari serpihan-serpihan proses kepetanian, yang terkadang terkesan nrimo, pasrahing pandum. Begitu, sekolah-sekolah dibuka dan masyarakat antusian belajar berproduksi dan manajemen, maka ritme generasi berikutnya berubah. Mereka menuju ke arah sektor industri dan jasa yang ditopang oleh media visual dengan senetronnya, maka lengkaplah gegar budaya itu, karena tiadanya transformasi budaya tadi. Manajemen jawa yang di-Indonesiakan, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani berubah menjadi ing ngarso ngusung bondho, ing madya mbangun griyo, tut wuri hang referensi. Maknanya, bila jadi pekerja maka carilah uang sebanyak-banyaknya, bila jadi manajer maka raihlah kemakmuran dan membuat rumah, dan bila jadi top manajer atau jadi pejabat penguasa, maka cukuplah memberi personal garansi kamu akan dapat uang banyak. Lha bagaimana ya transformasi budayanya. Kata mbah dipo: ubah jadi cepat
idiom petani dan industri: sebuah transformasi budaya
UTC04000000Thu, 12 Apr 2007 04:32:50 +00005012am07, Apram07 , 2007 oleh jelata
memang perlu kita giatkan transformasi budaya…. biar kita nggak terus diobok-obok bangsa asing… gimana caranya pasti para pujangga dan ilmuwan yang tau pastinya… mari